Langsung ke konten utama

JK Tak Ingin RI Hanya jadi Konsumen di Industri Digital Wakil Presiden (VP) Jusuf Kalla membuka Forum Pengembangan di Indonesia (FID 2019). Sebagai awal untuk ini, wakil presiden berbicara tentang pentingnya teknologi, perencanaan untuk masa depan, dan sumber daya manusia (SDM). Dalam perencanaan pembangunan, Wakil Presiden JK membahas pentingnya teknologi. Ini teknologi bekata adalah berkat tetapi juga memberikan tantangan baru. membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk memenuhi tantangan. "Teknologi berubah banyak nyawa, mengubah banyak perilaku," kata Jusuf Kalla di JCC, Senin (22/07/2019). "Semuanya berubah hidup dan adalah sebuah tantangan karena merupakan tantangan untuk sumber daya manusia," katanya. Jusuf Kalla Indonesia memberikan kontribusi yang diharapkan tidak hanya konsumen di dunia digital dan teknologi, tetapi secara aktif berpartisipasi dalam perkembangannya. Duta Besar Australia Gary Quinlan yang juga menghadiri memiliki dukungan negaranya bagi Indonesia dalam teknologi dan pendidikan. Dia disebut smartphone lebih canggih dari komputer yang pria di Bulan dan pendidikan merupakan komponen penting untuk generasi mendatang. "Pendidikan juga akan menentukan masa depan pemuda. Mereka membutuhkan keterampilan yang sesuai dan soft skill yang dibutuhkan. Pada dasarnya, pendidikan sangat penting untuk mempersiapkan anak-anak Perindustrian Kerja Indonesia 4.0, "kata Quinlan yang juga disebut Australia mendukung tentara Israel dari tiga tahun lalu Menteri PPN / Kepala Bappenas Bambang Brodjonegero mengatakan teknologi yang merupakan bagian penting dari masa depan negara ini. Dia juga menekankan pentingnya tenaga kerja yang dapat beradaptasi dengan teknologi dalam rangka untuk memiliki kelangsungan tenaga kerja investor yang diperlukan. "Teknologi ini, digitalisasi, sehingga warna dari masa depan kita, tenaga kerja masa depan harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi tersebut," kata Menteri Bambang. Kisah Bank dan Pekerja Melakukan Transformasi Digital Rasa cemas sempat melanda pikiran Fajar Adityo Ismantoro, salah satu Customer Service Officer (CSO) Bank Mandiri di kantor cabang Plaza Mandiri. Akhir 2018, ia dan rekan-rekannya mendapat informasi dari kepala cabang tentang proyek awal Digital Banking yang akan berlokasi di tempat yang sama. "Saya khawatir, apakah nanti saya akan dipindahkan ke unit atau divisi lain kalau nanti ada pengurangan staf di kantor cabang? Jika saya dipindahkan ke divisi legal, saya takut tak bisa menguasai bidang itu," ungkap Fajar yang mengawali profesinya sebagai teller pada 2009 di bank terbesar secara aset itu. Sejak Bank Mandiri meluncurkan aplikasi mobile pertama di platform Blackberry pada 2011 silam, Fajar merasakan adanya perubahan sistem perekrutan karyawan di bank pelat merah itu. "Dulu setelah saya bekerja satu tahun menjadi teller, saya langsung diangkat sebagai pegawai tetap. Akan tetapi, tahun berikutnya hingga sekarang, makin sulit bagi teller menjadi karyawan tetap," sebutnya. Namun, kegelisahan Fajar tak berangsur lama setelah ia berkonsultasi dengan kepala cabang. Ia yakin jika posisinya cukup aman saat ini. "Memang saat ini kami mulai mengalihkan nasabah alihkan ke digital, namun ada hal-hal yang tak bisa dipenuhi melalui digital. Banyak nasabah yang masih butuh konsultasi secara langsung dengan petugas bank, baik itu mengenai produk perbankan. Saya rasa perampingan (karyawan) itu ada tapi pegawai seperti teller dan CSO masih akan tetap dibutuhkan," ujar Fajar. Sementara, Dandy Permana, salah satu teller BCA di kantor cabang Thamrin tak merasa terancam karena yakin jika bank akan membekali ilmu bagi para karyawannya agar lebih sigap beradaptasi dengan digitalisasi perbankan. Selain melayani nasabah bertransaksi, Dandy yang masih kuliah dan menjadi karyawan magang di bank swasta ini, mengaku jika ia dan rekan kerjanya juga harus bisa menawarkan produk perbankan. "Jadi teller dan CSO juga ditargetkan cross-selling (berjualan) produk-produk seperti KPR, KKB, dan sebagainya," ujar dia. Kecemasan Fajar dan pengalaman Dandy untukberjualan merupakan segelintir contoh yang tengah dialami para karyawan perbankan tanah air sebagai dampak disrupsi teknologi digital yang terjadi di industri perbankan. Berdasarkan survei Digital Banking in Indonesia 2018 yang oleh PricewaterhouseCoopers (PwC), para pekerja di sektor perbankan sedang mengalami proses bisnis dan tim yang tidak fleksibel akibat minimnya sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang digital. Manajemen perbankan tak menyangkal jika perbankan mulai mengurangi biaya operasional perbankan, terutama dalam pembukaan kantor cabang seiring dengan tuntutan bagi perbankan untuk dapat bertransformasi menjadi digital banking. Direktur Operasional dan Bisnis Bank Mandiri Hery Gunardi mengakui, jika perampingan kantor cabang telah terjadi sejak tahun lalu. Dibandingkan beberapa tahun lalu yang umumnya membuka 100-200 cabang, tahun lalu Bank Mandiri hanya membuka 50 kantor cabang. Adapun tahun ini, bank pelat merah itu hanya membuka 10 cabang. Penyusutan ekspansi kantor cabang sejalan dengan transformasi perbankan digital, di mana Bank Mandiri telah mengurangi interaksi nasabah pada bank secara fisik dengan mengembangkan Mobile Apps atau Digital Channel. Saat ini, Hery menuturkan, transaksi digital di Bank Mandiri telah mencapai 92 persen, sementara transaksi konvensional atau di kantor cabang sekitar 8 persen. "Kami ingin menaikkan produktivitas,baik dari penghimpunan Dana PihakKetiga maupun kredit. Penghematan modal kerja dari sisi pembukaan cabang saja bisa berarti lebih dari Rp 100 miliar," ungkap Herry. Berbeda dengan BCA yang masih ingin membuka kantor konvensional dan merekrut para teller. Presiden Direktur BCA, JahjaSetiaatmadja mengatakan, BCA masih akan tetap ekspansi membuka kantor cabang baru dan karyawan baru meski transaksi digital di BCA telah mencapai 98 persen saat ini "Bank akan tetap membutuhkan teller danCSO, terutama transaksi besar di atas limit tertentu masih dilakukan di kantor cabang. Hal ini untuk melindungi nasabah dari kelalaian atau pihak-pihak yang mempunyai niat jahat," ungkap Jahja. Berebut SDM di Era Digital Meski bank-bank besar berlomba dalam meluncurkan produk digital perbankan, bukan berarti industri keuangan ini akan segera merampingkan tenaga kerja. Justru,mencari sumber daya manusia (SDM) yang berketerampilan di bidang digital menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perbankan Indonesia dalam transformasi digital layanan perbankan. Survei Digital Banking in Indonesia 2018 yang dirilis PricewaterhouseCoopers (PwC), sebesar 52 persen responden dariperbankan Indonesia menyatakan ketidakfleksibelnya proses bisnis dan tim, serta kurangnya SDM yang memiliki keahlian digital menjadi tantangan ketiga terbesar dalam mengimplementasi strategi digital. Hal ini akan menjadi risiko bagi perbankan dalam 2-3 tahun ke depan. Pemerintah Dorong Pengembangan SDM Digital Saat ini, Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia berupaya untuk terus mendorong pengembangan SDM digital. Salah satunya dengan memberikan 25.000 beasiswa digital bagi para siswa pada 2019.Jumlah ini akan terus meningkat 100 persen menjadi 50.000 beasiswa pada 2020. Menteri Kominfo, Rudiantara mengatakan, jumlah ini masih terbilang kecil dibandingkan kebutuhan tenaga digital di pasar yang diprediksi oleh Bank Dunia, mencapai 600.000 per tahun. Presiden Direktur Commonwealth Bank Indonesia, Lauren Sulistiawati mengapresiasi langkah yang dilakukan Kominfo maupun regulator dalam mengembangkan tenaga kerja yang siap beradaptasi di era digital. Namun, hal itu, kata Lauren, masih belum mewadahi kebutuhan SDM digital yang diperlukan perusahaan saat ini. "Kita tak hanya bersaing dengan sesama perbankan, tapi juga dengan teknologi finansial (tekfin), e-commercedan startup lainnya. Semua memerlukan talenta yang hampir sama, yakni harus memahami digital dan memiliki daya inovasi tinggi," ujar Lauren. Menurut konsultan Informasi Teknologi (IT) Independen sekaligus Founder Baba Studio, Zeembry Neo, kurangnya digital talent tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. "SDM IT masih belum mencukupi untuk menghadapi tuntutan perkembangan zaman. Kalau menunggu SDM menjadi ahli, bank bisa ketinggalan. Maka, hal yang paling cepat itu adalah menggunakan tenaga outsource atau ‘membajak’," kata Zeembry. Bank-bank besar sebenarnya secara rutin membekali para karyawan dengan pelatihan ulang(retraining). Salah satunya, bank BCA yang memiliki program e-learning untuk membekali ilmu bagi seluruh karyawan BCA. Armand Wahyudi Hartono, Wakil Direktur BCA menuturkan program e-learning ini merupakan aplikasi yang dapat diunduh di ponsel pintar,sehingga para karyawan bisa belajardi mana pun dan kapan pun. "Module-learning ini wajib bagi seluruh karyawan BCA. Modul ini dilengkapi tes dan permainan. Seluruh karyawan mendapat kesempatan latihan yang sama, dan tak bisa untuk dilewatkan,” ungkap Armand yang juga mengajar di e-learningapps BCA. Para bankir mengakui, menerapkan pelatihan ulang bagi karyawan bukan suatu hal yang mudah. Lantaran, taksemua karyawan mau mengubah polapikir (digital mindset) para pekerja danmenyesuaikan (agile) budaya kerjad engan kondisi perubahan digital saat ini. biaya kursus komputer kursus komputer online kursus komputer terdekat tempat kursus komputer terdekat kursus komputer bersertifikat contoh lembaga kursus kursus yang paling banyak dicari kursus terbaik kursus untuk wanita kursus bahasa inggris kursus online bahasa inggris kursus online gratis 2020 sertifikat komputer online gratis 2020 rekomendasi kursus online sertifikat online gratis 2020 kursus digital marketing bersertifikat kursus digital marketing terdekat kursus internet marketing murah kursus marketing kursus digital marketing di Bekasi kursus digital marketing di Bogor kursus marketing kursus digital maketing di jakarta kursus digital marketing di depok kursus internet marketing murah sertifikat digital marketing pelatihan digital marketing kursus digital marketing 2020 materi pelatihan digital marketing More info : Telp./ Wa :0813 5930 4039 Instagram : lkpfitrialbaasitu Facebook : Lkp Fitri Al-Baasitu Alamat : Jl . Graha Manis No. 10 Perum 2 Manisrejo Taman Kota Madiun

JK Tak Ingin RI Hanya jadi Konsumen di Industri Digital

Wakil Presiden (VP) Jusuf Kalla membuka Forum Pengembangan di Indonesia (FID 2019). Sebagai awal untuk ini, wakil presiden berbicara tentang pentingnya teknologi, perencanaan untuk masa depan, dan sumber daya manusia (SDM).

Dalam perencanaan pembangunan, Wakil Presiden JK membahas pentingnya teknologi. Ini teknologi bekata adalah berkat tetapi juga memberikan tantangan baru. membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk memenuhi tantangan.

"Teknologi berubah banyak nyawa, mengubah banyak perilaku," kata Jusuf Kalla di JCC, Senin (22/07/2019).

"Semuanya berubah hidup dan adalah sebuah tantangan karena merupakan tantangan untuk sumber daya manusia," katanya.

Jusuf Kalla Indonesia memberikan kontribusi yang diharapkan tidak hanya konsumen di dunia digital dan teknologi, tetapi secara aktif berpartisipasi dalam perkembangannya.

Duta Besar Australia Gary Quinlan yang juga menghadiri memiliki dukungan negaranya bagi Indonesia dalam teknologi dan pendidikan. Dia disebut smartphone lebih canggih dari komputer yang pria di Bulan dan pendidikan merupakan komponen penting untuk generasi mendatang.

"Pendidikan juga akan menentukan masa depan pemuda. Mereka membutuhkan keterampilan yang sesuai dan soft skill yang dibutuhkan. Pada dasarnya, pendidikan sangat penting untuk mempersiapkan anak-anak Perindustrian Kerja Indonesia 4.0, "kata Quinlan yang juga disebut Australia mendukung tentara Israel dari tiga tahun lalu

Menteri PPN / Kepala Bappenas Bambang Brodjonegero mengatakan teknologi yang merupakan bagian penting dari masa depan negara ini. Dia juga menekankan pentingnya tenaga kerja yang dapat beradaptasi dengan teknologi dalam rangka untuk memiliki kelangsungan tenaga kerja investor yang diperlukan.

"Teknologi ini, digitalisasi, sehingga warna dari masa depan kita, tenaga kerja masa depan harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi tersebut," kata Menteri Bambang.

Kisah Bank dan Pekerja Melakukan Transformasi Digital

Rasa cemas sempat melanda pikiran Fajar Adityo Ismantoro, salah satu Customer Service Officer (CSO) Bank Mandiri di kantor cabang Plaza Mandiri.

Akhir 2018, ia dan rekan-rekannya mendapat informasi dari kepala cabang tentang proyek awal Digital Banking yang akan berlokasi di tempat yang sama.

"Saya khawatir, apakah nanti saya akan dipindahkan ke unit atau divisi lain kalau nanti ada pengurangan staf di kantor cabang? Jika saya dipindahkan ke divisi legal, saya takut tak bisa menguasai bidang itu," ungkap Fajar yang mengawali profesinya sebagai teller pada 2009 di bank terbesar secara aset itu.

Sejak Bank Mandiri meluncurkan aplikasi mobile pertama di platform Blackberry pada 2011 silam, Fajar merasakan adanya perubahan sistem perekrutan karyawan di bank pelat merah itu.

"Dulu setelah saya bekerja satu tahun menjadi teller, saya langsung diangkat sebagai pegawai tetap. Akan tetapi, tahun berikutnya hingga sekarang, makin sulit bagi teller menjadi karyawan tetap," sebutnya.

Namun, kegelisahan Fajar tak berangsur lama setelah ia berkonsultasi dengan kepala cabang. Ia yakin jika posisinya cukup aman saat ini.

"Memang saat ini kami mulai mengalihkan nasabah alihkan ke digital, namun ada hal-hal yang tak bisa dipenuhi melalui digital. Banyak nasabah yang masih butuh konsultasi secara langsung dengan petugas bank, baik itu mengenai produk perbankan. Saya rasa perampingan (karyawan) itu ada tapi pegawai seperti teller dan CSO masih akan tetap dibutuhkan," ujar Fajar.

Sementara, Dandy Permana, salah satu teller  BCA di kantor cabang Thamrin tak merasa terancam karena yakin jika bank akan membekali ilmu bagi para karyawannya agar lebih sigap beradaptasi dengan digitalisasi perbankan.

Selain melayani nasabah bertransaksi, Dandy yang masih kuliah dan menjadi karyawan magang di bank swasta ini, mengaku jika ia dan rekan kerjanya juga harus bisa menawarkan produk perbankan.

"Jadi teller dan CSO juga ditargetkan cross-selling (berjualan) produk-produk seperti KPR, KKB, dan sebagainya," ujar dia.

Kecemasan Fajar dan pengalaman Dandy untukberjualan merupakan segelintir contoh yang tengah dialami para karyawan perbankan tanah air sebagai dampak disrupsi teknologi digital yang terjadi di industri perbankan.

Berdasarkan survei Digital Banking in Indonesia 2018 yang oleh PricewaterhouseCoopers (PwC), para pekerja di sektor perbankan sedang mengalami proses bisnis dan tim yang tidak fleksibel akibat minimnya sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang digital.

Manajemen  perbankan tak menyangkal jika perbankan mulai mengurangi biaya operasional perbankan,  terutama dalam pembukaan kantor cabang seiring dengan tuntutan bagi perbankan untuk dapat bertransformasi menjadi digital banking.

Direktur Operasional dan Bisnis Bank Mandiri Hery Gunardi mengakui, jika perampingan kantor cabang telah terjadi sejak tahun lalu.

Dibandingkan beberapa tahun lalu yang umumnya membuka 100-200 cabang, tahun lalu Bank Mandiri hanya membuka 50 kantor cabang. Adapun tahun ini, bank pelat merah itu hanya membuka 10 cabang.

Penyusutan ekspansi kantor cabang sejalan dengan transformasi perbankan digital, di mana Bank Mandiri telah mengurangi interaksi nasabah pada bank secara fisik dengan mengembangkan Mobile Apps atau Digital Channel.

Saat ini, Hery menuturkan, transaksi digital di Bank Mandiri telah mencapai 92 persen, sementara transaksi konvensional atau di kantor cabang sekitar 8 persen.

"Kami ingin menaikkan produktivitas,baik dari penghimpunan Dana PihakKetiga maupun kredit. Penghematan modal kerja dari sisi pembukaan cabang saja bisa berarti lebih dari Rp 100 miliar," ungkap Herry.

Berbeda dengan BCA yang masih ingin membuka kantor konvensional dan merekrut para teller. Presiden Direktur BCA, JahjaSetiaatmadja mengatakan, BCA masih akan tetap ekspansi membuka kantor cabang baru dan karyawan baru meski transaksi digital di BCA telah mencapai 98 persen saat ini

"Bank akan tetap membutuhkan teller danCSO, terutama transaksi besar di atas limit tertentu masih dilakukan di kantor cabang. Hal ini untuk melindungi nasabah dari kelalaian atau pihak-pihak yang mempunyai niat jahat," ungkap Jahja.

Berebut SDM di Era Digital

Meski bank-bank besar berlomba dalam meluncurkan produk digital perbankan, bukan berarti industri keuangan ini akan segera merampingkan tenaga kerja.

Justru,mencari sumber daya manusia (SDM) yang berketerampilan di bidang digital menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perbankan Indonesia dalam transformasi digital layanan perbankan.

Survei Digital Banking in Indonesia 2018 yang dirilis PricewaterhouseCoopers (PwC), sebesar 52 persen responden dariperbankan Indonesia menyatakan ketidakfleksibelnya proses bisnis dan tim, serta kurangnya SDM yang memiliki keahlian digital menjadi tantangan ketiga terbesar dalam mengimplementasi strategi digital. Hal ini akan menjadi risiko bagi perbankan dalam 2-3 tahun ke depan. 

Pemerintah Dorong Pengembangan SDM Digital

Saat ini, Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia berupaya untuk terus mendorong pengembangan SDM digital.

Salah satunya dengan memberikan 25.000 beasiswa digital bagi para siswa pada 2019.Jumlah ini akan terus meningkat 100 persen menjadi 50.000 beasiswa pada 2020.

Menteri Kominfo, Rudiantara mengatakan, jumlah ini masih terbilang kecil dibandingkan kebutuhan tenaga digital di pasar yang diprediksi oleh Bank Dunia, mencapai 600.000 per tahun.

Presiden Direktur Commonwealth Bank Indonesia, Lauren Sulistiawati mengapresiasi langkah yang dilakukan Kominfo maupun regulator dalam mengembangkan tenaga kerja yang siap beradaptasi di era digital. Namun, hal itu, kata Lauren, masih belum mewadahi kebutuhan SDM digital yang diperlukan perusahaan saat ini.

"Kita tak hanya bersaing dengan sesama perbankan, tapi juga dengan teknologi finansial (tekfin), e-commercedan startup lainnya. Semua memerlukan talenta yang hampir sama, yakni harus memahami digital dan memiliki daya inovasi tinggi," ujar Lauren.

Menurut konsultan Informasi Teknologi (IT) Independen sekaligus Founder Baba Studio, Zeembry Neo, kurangnya digital talent tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.

"SDM IT masih belum mencukupi untuk menghadapi tuntutan perkembangan zaman. Kalau menunggu SDM menjadi ahli, bank bisa ketinggalan. Maka, hal yang paling cepat itu adalah menggunakan tenaga outsource atau ‘membajak’," kata Zeembry.

Bank-bank besar sebenarnya secara rutin membekali para karyawan dengan pelatihan ulang(retraining). Salah satunya, bank BCA yang memiliki program e-learning untuk membekali ilmu bagi seluruh karyawan BCA.

Armand Wahyudi Hartono, Wakil Direktur BCA menuturkan program e-learning ini merupakan aplikasi yang dapat diunduh di ponsel pintar,sehingga para karyawan bisa belajardi mana pun dan kapan pun.

"Module-learning ini wajib bagi seluruh karyawan BCA. Modul ini dilengkapi tes dan permainan. Seluruh karyawan mendapat kesempatan latihan yang sama, dan tak bisa untuk dilewatkan,” ungkap Armand yang juga mengajar di e-learningapps BCA.

Para bankir mengakui, menerapkan pelatihan ulang bagi karyawan bukan suatu hal yang mudah. Lantaran, taksemua karyawan mau mengubah polapikir (digital mindset) para pekerja danmenyesuaikan (agile) budaya kerjad engan kondisi perubahan digital saat ini.  

biaya kursus komputer kursus  komputer online kursus komputer terdekat tempat kursus komputer terdekat kursus komputer bersertifikat contoh lembaga kursus kursus yang paling banyak dicari kursus terbaik kursus untuk wanita kursus bahasa inggris kursus online bahasa inggris kursus online gratis 2020 sertifikat komputer online gratis 2020 rekomendasi kursus online sertifikat online gratis 2020 kursus digital marketing bersertifikat kursus digital marketing terdekat kursus internet marketing murah kursus marketing kursus digital marketing di Bekasi kursus digital marketing di Bogor kursus marketing kursus digital maketing di jakarta kursus digital marketing di depok kursus internet marketing murah sertifikat digital marketing pelatihan digital marketing kursus digital marketing 2020 materi pelatihan digital marketing

More info :

Telp./ Wa :0813 5930 4039

Instagram : lkpfitrialbaasitu

Facebook : Lkp Fitri Al-Baasitu

Alamat : Jl . Graha Manis No. 10 Perum 2 Manisrejo Taman Kota Madiun

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fungsi dan Fitur DLC Boot Menu

Fungsi dan Fitur DLC Boot Menu Dikutip dari  softwaretempur.com  - Dlc boot merupakan alat serbaguna masa kini yang memiliki peran dalam memperbaiki  komputer  atau laptop yang rusak karena masalah internal pada operasi sistem tersebut tanpa harus melakukan kegiatan instalasi ulang os Biasanya  software  iso dlc boot ini seringkali digunakan para teknisi ahli komputer saat melakukan repair pada komputer klien via bootable yang memiliki fitur yang cukup bagus serta lumayan lengkap. Kembali lagi ke topik pembahasan sebelumnya, dlc boot ini memiliki fitur seperti ·          Mini windows portable untuk menjalankan windows secara portable, ·          Disk  tools  untuk memperbaiki masalah internal pada penyimpanan hardisk, backup & restore untuk melakukan backup data atau melakukan restore recovery pada data yang dianggap penting, ...

Belajar Coding, Materi Atau Penyampaiannya yang Sulit?

Belajar Coding, Materi Atau Penyampaiannya yang Sulit? Hari itu, Rabu 27 November 2019, seperti biasanya, rutinitas saya sebagai buruh kampus adalah melakukan pekerjaan menyenangkan namun melelahkan ke ujung utara pulau Jawa, tepatnya di Kota Tuban, Jawa Timur. Pekerjaan ini terasa menyenangkan karena bisa "jalan - jalan" keluar dari kepenatan kerjaan kantor dan kuliah yang tiada lelah memberikan tugas. Bahkan saking banyaknya tugas, terasa mereka, para tugas tersebut saling berkejaran di dalam kepala ini. bahkan terasa sesekali mereka berantem.  Namun tidak dipungkiri, "jalan - jalan" ini juga makin menambah "mumet" kepala saya. Kenapa? Ya... Tentu saja karena waktu yang banyak terbuang diperjalanan, yang seharusnya bisa saya manfaatkan untuk mengerjakan tugas, meski belum tentu juga sih.  Sesampainya di Bumi Wali, sebutan untuk Kota Tuban, saya langsung mempersiapkan diri di lokasi pameran. Ya, Pameran. Karena tugas saya adalah melaksakan pamera...

Perbedaan Format ".doc" dengan ".docx" Microsoft Word dan Pengaruhnya

Perbedaan Format ".doc" dengan ".docx" Microsoft Word dan Pengaruhnya Sebelum membahas perbedaan doc dengan docx ada baiknya kita mengetahui apa itu Microsoft Word. Microsoft Word atau Microsoft Office Word atau Word adalah perangkat lunak pengolah kata dari bagian Microsoft Office, produknya Microsoft.   Pertama diterbitkan pada 1983 dengan nama Multi-Tool Word, software hasil karya orang terkaya kedua didunia ini ( Bill Gates) menjadi andalan bagi masyarakat didunia dalam hal pembuatan   dokumen .  Nah, dokumen yang dihasilkan dari Microsoft Word ini mempunyai bentuk atau format penyimpanan berekstensi .doc dan .docx. Ada yang tahu mengenai keduanya? Perbedaannya? Format . doc   merupakan format penyimpanan dokumen word versi lawas atau lama, yaitu sampai pada Microsoft Word 2003. Sedangkan untuk . docx , digunakan pada Microsoft Word versi terbaru atau diatasnya yaitu Microsoft Word 2007, 2010,2013, dan 2016.  Mungkin anda atau ada dari beberapa kel...